Harapan Pelaku Bisnis untuk Kesetaraan
Harapan Pelaku Bisnis untuk Kesetaraan

Kesetaraan gender masih menjadi tantangan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tantangan yang masih sering dihadapi adanya kesenjangan di dunia kerja. Banyak perusahaan yang masih terjebak dengan aturan-aturan yang patrarkis, namun saat ini mulai banyak juga yang sudah menyadari pentingnya kesetaraan gender di dunia kerja dan mulai membuat perubahan di dalam perusahaan.

Menurut data Bank Dunia, tingkat kesejahteraan secara global dapat meningkat 21,7% jika kesetaraan gender diimplementasikan. Sebaliknya, kerugian pada human capital wealth secara global diperkirakan mencapai US$ 160.2 triliun akibat dari ketidaksetaraan gender.

Dengan latar belakang inilah IBCWE membuat CEO Talks dengan tajuk “Harapan Pelaku Bisnis Indonesia Menuju Kesetaraan”. IBCWE mengundang pembicara dari empat perusahaan di Indonesia yang telah memiliki inisiasi membuat tempat kerja yang ramah gender dan peduli kesetaraan. Empat pembicara tersebut adalah Neneng Goenadi, Managing Director Grab Indonesia; Ernest Hutagalung, Chief Financial Officer (CFO) Telkomtelstra; Michelle Tjokrosaputro, CEO PT Dan Liris; dan terakhir adalah Hugo Diba, CEO Kumparan.

Secara global, PBB berinisiatif untuk melakukan transformasi menuju pembangunan yang berkelanjutan dengan memasukkan “Achieve gender equality and empower all women and girls” sebagai salah satu agenda dalam “The 2030 Agenda for Sustainable Develompent”. Hal ini dilakukan untuk menyudahi seluruh bentuk diskrimasi terhadap perempuan, serta memastikan kesetaraan kesempatan bagi perempuan dalam semua level kepemimpinan, baik di sektor publik, ekonomi dan politik.

Presiden IBCWE, Shinta Widjaja Kamdani berpendapat bahwa bagi perusahaan, kesempatan untuk menambah lebih banyak perempuan pada jajaran dewan dan kepemimpinan senior, merupakan sebuah prestasi besar. Untuk terus berkembang, perusahaan juga perlu menciptakan tempat kerja yang ramah gender, mengembangkan investasi berorientasi perempuan, menggalakkan praktik keragaman, serta terus meningkatkan jumlah perempuan yang memegang posisi kunci di sebuah perusahaan.

Sementara itu, menurut Charge d’Affaires Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia, Allaster Cox, kesetaraan gender di tempat kerja merupakan hal penting, tidak hanya karena itu adalah hal yang benar dilakukan, tetapi karena dapat meningkatkan kinerja ekonomi negara secara keseluruhan. Allaster menegaskan, sektor swasta berperan penting dalam memajukan agenda kesetaraan gender, dengan menjadi pendorong perubahan dan memastikan kesempatan yang sama bagi laki-laki dan perempuan untuk berkembang dan mencapai potensi penuh mereka.

Dengan adanya pemimpin berperspektif gender, ke depan diharapkan ada suatu rumusan kebijakan yang berperspektif gender. Jika pemerintah tidak serius mengatur kebijakan ini, kesetaraan gender tidak akan pernah terwujud. Kesetaraan gender bukanlah sebuah tujuan akhir, namun merupakan jalan untuk mencapai tercapainya tujuan pembangunan nasional.

Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan, Sumiyati, dalam pidato penutup CEO Talks, menilai, seperti halnya laki-laki yang memiliki power, perempuan secara alamiah juga memiliki power dengan ciri yang berbeda dengan laki-laki, sehingga kontribusinya dapat memberikan nilai tambah bagi tempat mereka bekerja. Sumiyati menegaskan, konsep empowerment yang dibutuhkan perempuan bukanlah to be given power melainkan to be given opportunity. Karena perempuan juga dapat bekerja sama bagusnya dengan laki-laki jika diberi kesempatan yang sama, dan dukungan dari keluarga dan lingkungan kerja.